Parameter Perencanaan Geometrik Jalan

Posted: January 26, 2011 in My Study

Kembali mengisi blog, berharap banyak pengunjung dan menambah ilmu, saya posting lagi blog momonguk tercinta ini. Kali ini kita membahas tentang parameter perencanaan jalan, yang ini tuh jadi penentu dari tingkat kenyamanan dan keamanan yang dihasilkan oleh suatu bentuk geometri jalan loh.

Parameter yang paling utama didalam perencanaan jalan itu antaranya begini:

  1. Kendaraan rencana
  2. Kecepatan rencana
  3. Volume lalu lintas
  4. Tingkat pelayanan jalan
  5. Jarak pandangan

Yah, sekarang kita bahas yang pertama, yakni kendaraan rencana, kan kendaraan itu beda beda, makanya para peneliti dan pembuat jalan di Indonesia ini membagi beberapa kelompok kendaraan itu yang dipatokan ukuran mobil tersebut. Dengan patokan taon ’97. (aturan paling baru, dibandingin dengan tahun ’88) itu tuh, ada mobil kecil (mobil penumpang biasa, kayak sedan, kijang, carry, pick up) itu tuh masuk ke ukuran mobil kecil. Yang kedua tuh yah satu level diatas kecil, yakni sedang, mobil sedang ini ukurannya lebih besar dibandingkan dengan mobil penumpang biasa, tapi gak bisa dibilang kendaraan besar, contohnya (hanya yang tinggal didaerah citeureup- kampung rambutan yang tau) sarana transportasi paling fenomenal di daerah citeureup. Yaitu bis Jaya Mini, Tunggal putra, jamal jaya, dan kawan kawannya, yakni bis bis yang ngeluarin awan hitam kalo melintas. Tapi gosipnya, polusi yang disebarin ama mobil mobil bis citeureup- rambutan itu masih mending, kalo dibandingin ama polusi di india loh, kemaren nonton edie brokoli ngomong kalo di india itu polusi parah banget, sama dia tidak menyarankan kalo jangan jalan kaki di india, back to our topic yah, yang ketiga itu, yah pasti kendaraan besar, yah contohnya itu truk truk gede, yang mayoritas warnanya itu merah, kalo kagak yah ijo, jarang banget liat truk itu warnanya ungu ato pink, entah kenapa, masih saya selidiki.contohnya lagi itu truk kontainer.yah pokoknya kalo kendaraan yang gede, digolongkan ke kendaraan besar.

Kita liat dah, kendaraan yang dominan serta mayoritasnya, sehingga dapat perpaduan biaya dan fungsi jalannya, misalkan jalan sekitar pelabuhan yang didominasi oleh truk truk gede, dianjurkan menggunakan jalan yang lebih besar dibandingkan dengan jalan yang dilewatin sama mobil biasa ajah.

Nah, dengan begitu, jalan yang kita buat juga harus memfasilitasi si pengguna jalan, misalnya,tiap kendaraan kan punya sifat membeloknya, kita bisa tentukan tingkungan yang paling efektifnya, membuat U Turn, kalo kita tau daya dari kendaraan mayoritas itu sehingga bisa menentukan kelandaiannya

Yang kedua itu kecepatan rencana.itu adalah kecepatan yang dipilih unt keperluan perencanaan setiap bagian jalan raya, kayak tingkungan lah, kemiringan jalan lah , jarak pandang si pengemudi lah, dan laen sebagainya.kita mengklasifikasikan medan datar,berbukit atau gunung yang berpengaruh terhadap volume pekerjaan jalan. Dibilang datar kalo truk berkecepatan hamper menyerupai kecepatan mobil penumpang.medan dibilang perbukitan kalo kecepatan truk berkurang sampai dibawah kecepatan mobil berpenumpang, tapi belom merangkak. Kalo gunung beda lagi, dia kecepatan truknya berkurang banget, dan tuh jalan merangkak dalam frekwensi yang cukup tinggi.tapi si bina marga tuh buat lagi aturannya menurut kemiringan melintang rata ratanya, kao dibawah 3 %, tuh medan dbilang datar, kalo diantara 3% sampe 24,9% dibilangnya bukit dan kalo diatas 25% dibilang gunung.yang ketiga itu, volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melitasi satu titik pengamatan dalam satu satuan waktu , boleh itu jam, hari, ato menit.kalo jumlah kendaraannya tinggi, dibutuhkan lebar perkerasan jalan yang besar juga, begitu pun yang rendah, tidak begitu memerlukan perkerasan jalan yang besar.kalo volume, kita pasti akan berhubungan dengan LHR, yakni dibagi menjadi 2, LHR (ajah) yang merupakan hasil bagi jumlah kendaraan yang diperoleh selama pengamatan dengan lamanya pengamatan. Dan LHR(ajah) ini lebih praktis dibandingin ama LHRT. Yang butuh pengamatan selama 365 hari non stop secara 24jam, nah itu orang yang ngamatin, kudu pantengin jalan tiap hari, kagak boleh tidur, kagak boleh mandi, kagak boleh pipis, dan hanya ngeliatin dan ngitung jumlah kendaraan yang lewat ajah.dan rumus LHRT itu adalah (jumlah lalu lintas dalam 1 tahun/365 hari), selaen LHR ada juga VJP tuh. VJP menurut saya lebih teliti, karena singkatannya ajah Volume Jam Perencanaan, oleh sebab itu lebih detail, dari jam ke jam nya, kalo harian kan gak bisa memberikan hasil yang fruktuatif, kayak contohnya, ada jalan di daerah raccoon city gitu, kalo siang jem 12 sampe jem 1, rame banget, bisa bisa ada 100.000 kendaraan per jam. Dan kalo malem kagak ada yang lewat situ, paling ada 5 kendaraan per jam. Nah, itu kalo dibaginya perjam, coba kalo data dari pengamatan yang sama ditempat yang sama, “jumlah kendaraan yang lewat tiap hari di raccoon city tuh, 150.000 kendaraan perhari. Nah, itu kan per hari, jadi kita pisahin perjam, jadi 150.000 dibagi 24 jam, jadinya kendaraan yang lewat perjam di raccoon city 6250 kendaraan perjam.  Pedahal, Cuma rame pas jem 1 an, dan jauh dari hasil kendaraan yang lewat pada malem hari, oleh sebab itu, secara pribadi saya lebih menyukai VJB.lalu ada tingkat pelayanan jalan ini tuh merupakan tingkat keamanan, kenyamanan, dan kebebasan pengemudi saat melewati jalan tersebut. Volumenya berpengaruh besar disini, jikalau volumenya rendah, si pengemudi dapat leluarsa mengemudi, dapat mengatur kecepatan, bisa sembari smsan, dan laen sebagainya, makanya ada perbandingan V/C, kalo jumlah V/Cnya makin mendekati 1, maka jalan tersebut namanya macet total, dan semakin mendekati 0, semakin tinggi pula tingkat pelayanan jalan tersebut, jalan dibagi menjadi A sampe F, yah ada urutannya, tapi singkatnya itu, kalo A, itu, jalannya paling bagus,arus lalu lintas bebas hambatan, pengemudi bebas menentukan kecepatan ,dll, sedangkan F itu paling parah,udah arus lalu lintas rendah, sering terjadi kemacetan dll dah. Terus terakhir tuh si Jarak pandangan yang merupakan jarak yg masih bisa dilihat ama pengemudi dari tempat duduknya. Dan dibagi jadi 2, yakni jarak pandang berhenti dan jarak pandang menyiap. Dan jarak pandang menyiap itu Cuma bisa digunakan dalam perencanaan untuk jalan 2 arah tampa median. Jarak pandang ini banyak rumus rumusnya, tapi males ditulis,hehhe,

Oke deh, posting kali ini ckup segini dulu, mudah mudahan sedikit bermanfaat yah…thanks a lot

 

Comments
  1. alit says:

    kenapa jalan di pegunungan dibuat berkelok-kelok?

    • momonguk says:

      terima kasih pertanyaannya alit. begini, sudut elevasi (tanjakan jalan atau turunan jalan) sangat menentukan banyakan kelokan didalam jalan, jalan yang berkelok dibuat guna meminimalisir sudut kemiringan jalan, jadi jalan tidak terlalu ekstrim di tanjakannya, jadinya dibuat landai sedikit, nah untuk membuat menjadi landai, kita harus memperpanjang jalur jalan dan disiasati dengan kelokan tersebut. (maap jawabannya di puter puter🙂 tapi intinya kayak gitu🙂 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s